Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan berkembang sangat cepat dan mulai digunakan oleh manusia dalam berbagai bidang kehidupan. Namun, di balik perkembangannya, para peneliti AI kembali mengingatkan potensi resiko jika perkembangan teknologi ini berlangsung jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk mengendalikannya.
Para peneliti AI termasuk 'Bapak AI' dunia (John McCarthy) menerbitkan riset yang kembali mewanti-wanti pemerintah untuk bersiap menghadapi 'ledakan kecerdasan' AI. Dalam risetnya, para peneliti mendesak para pembuat kebijakan untuk bertindak segera sebelum terjadi kemajuan yang tak terkendali dari teknologi tersebut. Mereka juga menulis bahwa ledakan AI bisa menjadi perkembangan teknologi paling penting dalam sejarah manusia, memadatkan kemajuan dengan singkat dari bertahun-tahun bisa menjadi beberapa bulan atau kurang, mengancam kendali manusia atas sistem AI, dan sangat mengikis pengawasan kekuasaan di dalam dan antar negara, perusahaan, dan cabang pemerintahan. (CNNIndonesia.com, 30/9/2026)
Ledakan AI, Antara Manfaat dan Mudarat
Tidak dimungkiri penggunaan AI banyak memberikan manfaat atau kemudahan bagi kehidupan manusia seperti mempercepat riset medis, pendidikan, dan kemudahan hidup manusia lainnya. Namun di sisi lain sangat mungkin juga digunakan untuk kejahatan seperti menipu, menyebar hoax dan propaganda masif, melancarkan serangan siber, hingga melakukan pengawasan dan manipulasi opini secara sistematis.
Terlebih jika ledakan AI ini berkembang secara mandiri tanpa kendali akidah dan syariat, tentu ini akan sangat beresiko pada kehancuran kehidupan manusia. Karena AI dibiarkan berkembang mengikuti hawa nafsu, ambisi kekuasaan tanpa melihat halal dan haram. Sehingga yang akan terjadi lebih kepada kerusakan bukan kemaslahatan.
AI juga dapat diibaratkan dua mata pisau, artinya satu sisi memberi kemudahan sisi lain menimbulkan bahaya. Dengan kecanggihan teknologi ini apa saja dapat dilakukan. Namun, berkembangnya AI ini juga bukan suatu kesalahan, karena merupakan anugerah dari Allah Swt, tinggal manusianya yang mamilih akan digunakan untuk kebaikan atau sebaliknya.
Sayangnya, dalam sistem kapitalisme hari ini, menempatkan perkembangan teknologi semata-mata demi keuntungan material dan pertumbuhan korporasi. Ketika mendatangkan keuntungan secara materi bagi individu misalnya, maka akan dibiarkan, sebaliknya meskipun hal itu berupa kebaikan, tetapi kurang mendatangkan keuntungan maka siap-siap untuk dihilangkan. Begitu pula ketika ledakan terjadi dan tidak terkendali masyarakat lah yang menjadi korban. Seperti PHK massal demi efisiensi, maraknya deepfake (manipulasi) yang merusak tatanan sosial, hingga penyalahgunaan AI untuk penistaan agama.
Hal ini mengindikasikan kurangnya kepedulian terhadap rakyat, bahkan terhadap moral generasi. Karena disadari atau tidak, kemudahan AI akan berdampak sosial bagi masyarakat. Akibatnya, muncul rasa malas dan penurunan keterampilan berpikir kritis yang membuat daya analisis masyarakat ikut melemah karena terbiasa menerima hasil instan.
Pandangan Islam terhadap Teknologi
Berbagai kemudahan dari kemajuan teknologi informasi sejatinya adalah anugrah dari Allah Swt. berupa kenikmatan teknologi yang telah kita rasakan saat ini. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Ar-Rahman Ayat 33, yang artinya: "Wahai segenap jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah)."
Allah Swt. juga telah memberikan kemuliaan akal kepada manusia untuk berpikir, memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan menjadi khalifah di bumi (khalifah fil ardhi) yang termaktub dalam Qur'an surah Al Baqarah ayat 30. Artinya, manusia diberi amanah untuk memimpin bumi Allah, bukan teknologi yang memimpin. Karena manusia diberi akal yang sempurna, mampu membedakan mana yang benar dan salah jika dituntun akalnya oleh syariat, maka pasti akan mampu mengendalikan dampak buruk dari teknologi termasuk AI.
Islam secara syariat telah menetapkan dengan tegas segala bentuk hasil pemikiran manusia sebagai hadarah (dipengaruhi ideologi tertentu) dan madaniyah (netral). AI sendiri adalah buah perkembangan teknologi buatan manusia yang dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan. Namun, informasi, pemikiran, dan nilai yang dimasukan ke dalam sistem tidak selalu netral. Data yang bias, tujuan pengembangan yang berorientasi pada keuntungan, serta kepentingan politik dan militer dapat memengaruhi keputusan yang dihasilkan AI. Oleh karenanya, apa yang dihasilkan AI tidak otomatis benar, adil, atau sesuai syariat.
AI bersifat membantu manusia, bukan penentu kebenaran apalagi sumber hukum. Manusia ketika menggunakannya harus bertanggung jawab terhadap tujuan penggunaan, pengawasan, dan dampaknya. Dalam perspektif Islam, pengembangan teknologi diarahkan untuk kemaslahatan manusia sesuai syariat, bukan sekedar mengejar keuntungan atau dominasi kekuasaan. Penggunaannya tetaplah bersandar pada syariat, sehingga menjadikan halal dan haram sebagai pertimbangan dalam memanfaatkan teknologi.
Dari sisi negara, negara Islam (khilafah) sangat mendukung terhadap perkembangan teknologi. Teknologi akan dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat, seperti untuk pertanian, kesehatan, pendidikan, energi, industri, dan untuk kebutuhan manusia yang lain. Semua akan berjalan dengan menjadikan Islam sebagai landasan, bukan manfaat.
Oleh karena itu, seorang muslim yang bertakwa tidak akan menggunakan teknologi untuk menipu, memfitnah, merusak kehormatan manusia, dan sebagainya. Karena ia meyakini semua perbuatannya akan dihisab di hari kiamat kelak. Sebaliknya, ia akan menggunakannya untuk membantu memenuhi kebutuhan manusia dan menyelesaikan problematika umat serta kemaslahatan lainnya. Sebaliknya, teknologi di tangan orang kafir akan mendatangkan bahaya dan kerusakan, karena tidak dibimbing oleh syariat, akan tetapi hawa nafsu semata.
Namun, ketakwaan individu saja tidak cukup, akan tetapi diperlukan dukungan masyarakat dan negara yang mengatur dan menjamin teknologi berfungsi dengan baik. Karena sistem kehidupan harus merujuk pada syariat Allah Swt. Dengan demikian, teknologi tidak akan dibiarkan berjalan tanpa arah dan hukum yang jelas. Akidah akan menjadi landasan berpikir dan syariat menjadi pedoman dalam perbuatan dan mengatur kehidupan. Alhasil, kecanggihan AI yang merupakan kemajuan teknologi, sudah semestinya menjadi sarana menjalankan amanah kekhilafahan bukan jalan menuju kehancuran.
Wallahu a'lam bis shawwab
