Lagi dan lagi zionis menunjukkan kebrutalannya, kali ini si penjajah laknatullah menyita kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan bersama para aktivisnya yang menuju Gaza, di perairan internasional dekat wilayah Yunani. Hal ini membuktikan bahwa entitas zionis, tidak mengenal batas dalam melanggengkan upaya blokade terhadap Gaza. Hukum laut internasional pun dengan mudah dilanggarnya dengan aksi kejahatan di laut lepas.
Pasukan zionis telah mencegat lebih dari 20 kapal dari Global Sumud Flotilla, yang akan membawa bantuan kemanusiaan ke Gaza di perairan internasional lepas pantai Yunani. Serta menahan sebanyak 175 aktivis yang berasal dari berbagai negara yang berada di kapal tersebut. Tindakan tersebut menuai banyak kecaman dari berbagai negara, Jerman dan Italia melayangkan teguran terhadap Israel agar menghormati hukum internasional. Kedua negara tersebut juga menegaskan bahwa upaya penyaluran bantuan, dari komunitas internasional yang mereka lakukan ini sudah sesuai dengan standar hukum yang berlaku. (CNN Indonesia, Jumat, 1/5/2026
Dalam melegitimasi agresinya, zionis kerap menggunakan label "terorisme" untuk mengkriminalisasi gerakan solidaritas global bagi Palestina. zionis menuduh salah satu dari aktivis di dalam solidaritas kemanusiaan tersebut terafiliasi dengan organisasi yang berada di bawah arahan Hamas. Tindakan represif ini menyebabkan para relawan mengalami luka-luka, karena untuk melumpuhkan kapal-kapal tersebut zionis melakukan kekejaman luar biasa.
Melihat kejadian ini, di mana keberadaan negeri-negeri muslim? Tidak ada satupun dari mereka yang mengirimkan angkatan lautnya untuk melindungi kapal-kapal tersebut. Mereka hanya bisa diam sambil mengecam, dengan kecaman yang tak berdampak apa-apa. Para pemimpin negeri muslim lebih memilih memelihara keamanan regional, meski para kafir penjajah menyerang saudara-saudara mereka di hadapannya. Ini membuktikan bahwa sekat negara-bangsa yang ada, tidak dirancang untuk saling melindungi umat Islam, tetapi menjaga eksistensi zionis.
Inilah yang terjadi di negeri-negeri muslim saat ini, karena mereka berdiri tanpa landasan akidah Islam. Selama mereka tersekat oleh sistem nation-state, niscaya seluruh negeri muslim selalu menjadi sasaran empuk kafir Barat dalam memperkuat penjajahannya. Untuk melawan penjajahan Kapitalis-Barat di negeri-negeri muslim, dibutuhkan persatuan seluruh kaum muslimin dalam sebuah sistem kepemimpinan yang berlandaskan pada akidah Islam.
Kesadaran akan urgensinya persatuan umat harus tumbuh pada seluruh kaum muslimin. Mereka seharusnya menyadari bahwa sesama kaum muslimin itu bersaudara. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.
"Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya ikut merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam." (HR. Muslim)
Maka umat Islam harus menyadari bahwa Gaza adalah bagian dari tanah kaum muslimin yang wajib dilindungi. Membiarkan blokade zionis tanpa tindakan perlawanan, merupakan kezaliman kaum muslimin terhadap saudaranya. Kemungkaran ini wajib diubah dengan kemampuan tertinggi yang dimiliki umat, yaitu mewujudkan persatuan dalam naungan khilafah Islamiah.
Tegaknya Daulah Khilafah akan menjadi perisai bagi seluruh umat Islam. Khilafah akan menjadi satu-satunya institusi yang secara syar'i memiliki kewenangan dan kewajiban, untuk melindungi jiwa-jiwa kaum muslimin oleh kekuatan zalim dengan melakukan zihad fii Sabilillah. Karena itu memperjuangkan tegaknya khilafah adalah kewajiban seluruh umat Islam.
Kemarahan umat Islam atas agresi penghadangan terhadap kapal-kapal solidaritas bantuan kemanusiaan Palestina, tidak cukup hanya diucapkan dengan kecaman dan keprihatinan. Lebih dari itu harus diarahkan pada kesadaran mendalam, terkait pentingnya aktivitas dakwah dengan mengikuti metode yang telah Rasulullah saw. contohkan mewujudkan khilafah sebagai junnah (pelindung).
Wallahu a'lam bi ash shawab
