TEHERAN (Arrahmah.id) - Iran menyatakan pada Sabtu (7/11/2026) bahwa militernya telah menjadi “lebih kuat” sejak dimulainya perang dengan Amerika Serikat—negara yang telah menawarkan imbalan sebesar 20 juta dolar AS bagi informasi mengenai program nuklir Teheran.
Para mediator tengah berupaya mencegah kembali pecahnya pertempuran setelah kebuntuan selama berbulan-bulan dalam konflik di Timur Tengah, yang bermula ketika Amerika Serikat dan "Israel" menyerang Iran pada akhir Februari lalu.
Teheran telah berupaya membatasi lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur yang biasanya dilalui oleh sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia.
Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, mengatakan bahwa Teheran tetap memegang kendali atas jalur perairan strategis tersebut dan menyatakan bahwa selat itu akan terus ditutup sampai tuntutan mereka dipenuhi oleh Amerika Serikat, lansir AFP.
Ia juga mengatakan bahwa pasukan Iran telah menjadi lebih kuat dan lebih percaya diri, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita negara IRNA pada Sabtu.
“Saat ini, angkatan bersenjata Republik Iran setelah memperoleh pengalaman dari konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat dan rezim 'Israel', berada dalam tingkat kesiagaan yang lebih tinggi dan jauh lebih kuat dibandingkan saat awal perang,” ujarnya.
“Mereka kini memiliki motivasi, komitmen, dan kepercayaan diri yang lebih besar.”
“Atas perintah Pemimpin Tertinggi, respons dari angkatan bersenjata akan bersifat segera, efektif, dan tanpa batasan geografis,” tambahnya.
Imbalan ditawarkan
Pada Jumat, militer AS menyatakan menawarkan imbalan sebesar $20 juta “serta kemungkinan relokasi” bagi siapa pun yang memberikan informasi mengenai program nuklir Iran.
Komando Pusat AS (US Central Command) melalui platform X menyampaikan bahwa program Departemen Luar Negeri AS yang bernama Rewards for Justice tengah mencari informasi terkait berbagai hal, termasuk “fasilitas, peralatan, dan personel yang terlibat—seperti mereka yang berada di lingkungan komunitas ilmiah.”
Pihak militer tidak merinci jenis informasi seperti apa yang akan mendapatkan imbalan sebesar $20 juta tersebut.
Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menyatakan bahwa pasukan AS telah berhasil melumpuhkan program nuklir Iran.
“Jika kita tidak menyerang Iran, 'Israel' mungkin tidak akan ada hari ini,” ujar Trump pada Jumat malam di West Palm Beach, Florida.
“Jika mereka memiliki senjata nuklir, mereka pasti sudah menggunakannya. Mereka akan meluluhlantakkan Timur Tengah.”
Dialog
Presiden juga mengatakan bahwa Iran—yang menurutnya telah mengalami kerusakan parah pada sektor ekonomi dan militer selama delapan bulan perang—sangat ingin mengakhiri konflik tersebut.
“Kami sedang berurusan dengan mereka saat ini. Mereka sangat ingin mencapai kesepakatan,” ujarnya.
Pada Jumat, Trump menelepon Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani, untuk membahas upaya pengakhiran perang.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan pekan ini bahwa pemerintahannya masih berupaya menyelesaikan krisis tersebut melalui dialog.
Pada Sabtu dini hari, kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan bahwa dua rudal menghantam Pulau Qeshm di Selat Hormuz, seraya menambahkan bahwa belum ada informasi resmi mengenai kerusakan yang ditimbulkan.
Televisi pemerintah Iran melaporkan terjadinya dua ledakan di pulau tersebut.
Menurut media pemerintah, militer Iran menyatakan pada Sabtu dini hari bahwa sistem pertahanan udaranya telah “menghantam dan menghancurkan” sebuah pesawat nirawak (drone) Amerika Serikat yang terbang di atas pulau tersebut. Pihak militer tidak menyebutkan apakah pulau itu sendiri telah diserang. (haninmazaya/arrahmah.id)
